Sunday, November 09, 2008

Nih beritanya

Kamis, 06/11/2008 15:44 WIB
Poster 'Pocong Vs Kuntilanak' Jiplak?
Han Kristi - detikMovie

Jakarta - Beredar kabar poster film 'Pocong Vs Kuntilanak', mirip dengan poster film asal negeri paman Sam 'Freddy Vs Jason'. Sebuah kebetulan sekali, kedua film itu sama-sama berada di genre film horor thriller.

Dilihat dari gambar, terlihat kemiripan 'Pocong Vs Kuntilanak' dan 'Freddy Vs Jason'. Di dua poster itu, tokoh mahluk jahat itu saling bertatapan dengan latar belakang gelap.

'Freddy Vs Jason' lebih dulu beredar di pasaran pada 5 Maret 2004. Film ini mempertemukan dua tokoh hantu yang legendaris Freddy Krueger dan Jason Voorhees dalam satu scene. Setelah lama menghuni liang lahat Freddy dan Jason bangkit kembali untuk meneror remaja-remaja di Elm Street.

Sedangkan 'Pocong Vs Kuntilanak' mulai rilis hari ini, Kamis (6/11/2008). Film yang dibintangi Ahmad Zaki, Alia Rosa dan Aldy Taher itu menampilkan perseteruan antara pocong dan kuntilanak yang konon sudah dimulai dari zaman penjajahan Belanda.

Aldi Taher sang bintang 'Pocong Vs Kuntilanak' mengaku tidak mengetahui kemiripan poster filmnya itu. "Soalnya yang buat kan PHnya. Konsepnya mungkin sama ya. Film ini sama-masa nampilin dua setan yang legend," ucap Aldi saat dihubungi detikhot lewat telepon genggamnya, Kamis (6/11/2008).

Namun lawan main Dewi Persik di film 'Tiren' itu mengaku takut, ketika melihat papan reklame film 'Pocong Vs Kuntilanak' di salah satu bilangan Jakarta. "Gue baru lihat balihonya, serem banget," ungkapnya.

Di luar mirip atau tidak, Aldi menekankan film itu merupakan film horor pertama yang menampilkan pertarungan sengit antar dua mahluk halus dan layak untuk ditonton. "Gokil deh pokoknya film ini," ujarnya. (hkm/bdi)

Poster Movie vs Cover Movie

2003

5 tahun kemudian

No Comment gw ......huahahahahahaha....padahal filmnya horor

Kalo yang gw baca di Cinemags ada lagi lho :
Ditto (Korea 2000) dan Hanya Untukmu (2008)
The Prestige (2006) dan Roh (2007)
Hirloom (Taiwan 2005) dan Tali Pocong Perawan (2008)
yang paling mirip banget......:
City of Angel (1998) dan Cinta Tia Maria

Saturday, November 08, 2008

Pekan Film Indonesia di Bandung

Wah diluar harapan, padahal ada beberapa film yang gw lewatkan waktu di Jakarta salahsatunya Eagleyes. Untung sempet sekali nonton Body of Lies nya Leonardo di Caprio. Dan Minggu2 waktu gw di Bandung, semuanya film Indonesia.
Dari beberapa film yang gw tonton, gw angkat topi buat Cinta Setaman. Lebih dari Laskar Pelangi menurut gw nih film, soalnya LP udah baca bukunya dan begitu mempesona jalan cerita di bukunya. Tapi Laskar Pelangi lebih dahsyat untuk sebuah karya adaptasi dari Novel dibanding Ayat-Ayat Cinta yang dibayarin nonton lagi juga males. Sorry yah Oom Hanung, gw salah satu pengagum karya2 mu. Doa yang Mengancam juga aku tonton kok, tapi masih belum bisa memukau ku lagi yah, dan lagi2 nih film adaptasi karya tulis tapi kali ini Cerpen. Akhir cerita nya seperti menggampangkan masalah, belum lagi seperti yang dikritik oleh harian Kompas, kok gak dibunuh saja Aming nya kalo tahu dia bakal bisa bikin kacau dunia kejahatan. Toh si penjahat diperankan Deddy Sutomo, sudah biasa ngabisin nyawa orang. Ini malah dipiara dan digaji lagi.
Untuk Cinta Setaman kok bisa dan berani yah orang Indonesia buat film seperti itu, walaupun ide nya tidak orisinil, karena Hollywod sudah duluan buat yang mirip potongan puzzle ini dan lebih menarik juga unik. Tapi untuk seorang Harry Dagoe (emang dagu nya agak lain yah hehehehe) semua artis top papan atas dan berkelas mau main di filmnya. Akting sendiri gw juga salut untuk Harry Dagoe justru. Kok bisa mirip gitu yah......asli melayu yah mas Harry. Lebih memukau dari akting melayu nya Cut Mini yang menurut gw terlalu dibuat buat......padahal gak mirip banget. Lebih mantap Ria Irawan. Tapi beneran loh saya pulang sedikit kecewa sama film ini...kecewa kok cepet bener habisnya. Ternyata memang bener film bagus tuh nyaman di tonton....semoga Citra mampir buat Filmnya Harry Dagoe ini.....

MUPENG - Maunya Indonesian Pie

5 Menit Awal sudah ketahuan nih film, maunya Indonesian Pie. Adegan 'sok' jorok Mario (iklan XL) yang berperan sebagai Abi di halte bus sudah bia ditebak selanjutnya, lengkap dengan sexual experience lainnya. Untuk jalan cerita gw gak akan cerita banyak. Seputar dunia mahasiswa dengan percintaan, naksir cewek dan kehidupan di kampusnya.
Terus kalo Indonesian Pie pasti ada Stifler nya dong yang di American Pie diperankan Seann William Scot. Yah pasti ada lah, VJ Mike yang berperan sebagai Tommy.
Secara penilaian nih film masih dibawah standard, seperti rata2 film Indonesia. Sorry bukan sok jago nilai atau belagu kritisi. Dan gw juga gak anti film Indonesia. Minggu2 waktu gw nonton nih film, hampir semuanya film Indonesia (liat postingan gw Pekan Film Indonesia di Bandung).
Tapi emang muak banget gw waktu liat adegan penutup si Angga (Dimas Aditya) yang akhirnya berani nembak cewek yang jadi gebetannya di depan orang tuanya, si cewek bilang "peluk gw dong"...langsung nyumpah2 gw .....an$%&g, jadi terbawa nih film yang penuh omongan jorok.
Orang tua mana sih yang(didalam film) dengan mimik muka bangga dan terharu liat anak pelukan dan ciuman dengan cowok. Kalo gw mah gw hajar tuh orang.
Untuk Mario akting nya menurut gw udah kayak artis yang sering di depan kamera, wajar dan gak kaku. Mantap dan cukup memukau......
Udah ah, nilai plusnya yang bisa diambil dari nih film, yah kalo kita yakin dan penuh usaha pasti Tuhan akan ngasih jalan dan berhasil, dengan cewek maksudnya. Walaupun tampang dan dompet pas-pasan......kalo gw sih nggak hehehehe

Saturday, January 12, 2008

Sepakbola Sumsel adalah Sriwijaya FC - Taufik Wijaya - detikSport


Tadinya saya mau buat sendiri tulisan tentang Sriwijaya FC, salah satu klub bola dari negeri tercintaku. Dan kebanggan seluruh keluarag ku di sana. Yang aku mesti tinggalkan saat awal2 team ini terbentuk setelah di beli dari Persijatim Solo. Tapi setelah baca tulisan dari detik.com 12-1-2007. Yah..sudahlah cuplik ajalah...walaupun belum minta izin hehehe

Sabtu, 12/01/2008 14:23 WIB
Kolom
Sepakbola Sumsel adalah Sriwijaya FC
Taufik Wijaya - detikSport


Palembang -
Dulu Sumatra Selatan pernah memiliki duta sepakbola yang amat harum namanya: Kramayudha Tiga Berlian. Kini Sriwijaya FC adalah simbol baru sepakbola di Bumi Sriwijaya itu. Istri dan dua anak saya berteriak kegirangan ketika Ferry Rotinsulu membuang bola yang mengarah kencang ke sisi kanan gawangnya, yang dilesatkan Vagner Luis. Malam itu, dari jarak ratusan kilometer, mereka meneriakkan nama Ferry di hadapan televisi 21 inci. Kedua anak saya meloncat-loncat, dan menirukan gerakan Ferry saat menyelamatkan gawangnya kali kedua. Malam itu bukan hanya keluarga saya yang berteriak kegirangan. Jutaan keluarga di Sumatra Selatan (Sumsel), sebuah provinsi yang kaya dengan sumber energi, juga merasakan kegembiraan yang sama di hadapan televisi, saat Sriwijaya FC mengandaskan Pelita Jaya, di babak semifinal Copa Dji Sam Soe Indonesia, melawan Pelita Jaya, di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Kakarta, Kamis (10/01/1008) lalu. Dari yang saya hafal, sudah 20 tahun masyarakat Sumsel tidak merasakan kegembiraan ini, semenjak era keemasan Kramayudha Tiga Berlian yang merajai Galatama. Istri saya yang sebelumnya tidak begitu suka sepakbola, turut menikmati pertandingan tersebut. Dia mengorbankan sinetron yang menjadi tontonan wajibnya. Dua anak saya pun dibiarkannya menonton pertandingan itu, meskipun besok paginya mereka agak terlambat pergi ke sekolah. Sama seperti masyarakat Indonesia atau masyarakat dunia lainnya, sebagian besar warga Sumsel merupakan penggila sepakbola. Selama puluhan tahun mereka hanya menjadi penggemar tim-tim mancanegara. Mereka begitu fasih dengan pemain-pemain dari Inggris, Italia, Jerman, Belanda atau Prancis. Tapi, sejak tiga tahun terakhir, ketika Gubernur Sumsel Syahrial Oesman melahirkan Sriwijaya FC, para penggila sepakbola di propinsi ini, terutama anak-anak dan remaja, mulai menghiasi kamar mereka dengan kostum klub tersebut yang dibumbui tanda tangan Ferry Rotinsulu, Zah Rahan, Renato, Toni Sucipto, Kayamba, atau Christian Lenglolo. Bahkan, tidak sedikit menempeli dinding kamar dengan foto mereka saat bertemu para pemain Sriwijaya FC yang sudah menyukai pempek. "Sekarang ini, menurut kami, sepakbola itu adalah Sriwijaya FC dan Syahrial Oesman," kata seorang warga Palembang saat menyaksikan pertandingan Sriwijaya FC melawan PSMS Medan di Stadion Gelora Sriwijaya, Jakabaring, Palembang, di babak perempat final Copa. Pernyataan itu mungkin berlebihan. Namun, seperti halnya istri saya yang selalu berharap kami memiliki sebuah rumah, tampak seperti mendapatkan sebuah rumah mewah saat menyambut kemenangan Sriwijaya FC tersebut. Ini artinya keberadaan Sriwijaya FC suka atau tidak suka telah memberikan suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi masyarakat Sumsel. Mereka tidak hanya menyebut David Beckham, Ronaldo, atau Michel Ballack, untuk pemain sepakbola. Mereka tidak malu, bahkan bangga, menyebut nama Ferry Rotinsulu atau Charis Yulianto. Sriwijaya FC telah menjadi simbol kebersamaan bagi sekian juta rakyat Sumsel yang memiliki beragam profesi, etnis, status sosial, maupun kepercayaan. Saat Keith Gumbs Kayamba menjebol gawang tim lawan, orang Sekayu, Komering, Palembang, Ogan, Enim, Ranau, dan Besemah, berteriak kegirangan secara bersamaan. Dengan fakta ini pemerintah Sumsel sebetulnya telah menemukan simbol guna mendorong masyarakatnya untuk mendukung pembangunan yang dijalankan dan direncanakan. Pemanfaatan simbol ini tentu sangat berarti, bila dikaitkan dengan kepentingan publik, bukan semata kepentingan kelompok pemodal. Kita mungkin harus belajar dari Italia, sebuah negara yang hancur-lembur setelah kekalahan mereka dalam Perang Dunia II. Melalui permainan sepakbola, mereka mampu bangkit. Bukan hanya meningkatkan rasa percaya diri bangsa Italia, juga mendorong pembangunan ekonomi. Itu juga terjadi pada negara-negara miskin di Amerika Latin, seperti Brasil dan Argentina. Bahkan, saat ini sepakbola mampu menjadi simbol perubahan bagi bangsa-bangsa di Afrika yang selama dua abad terakhir hidup dalam kemiskinan. Negara-negara yang sebelumnya dilirik sebelah mata, baik dalam ekonomi dan kebudayaan, kini menjadi buah bibir di banyak negara, termasuk di Indonesia, misalnya Liberia, Nigeria, Senegal, atau Pantai Gading. Semua itu lantaran kiprah para pemain sepakbolanya. Jadi, tidaklah heran bila sebagian orang berpendapat, saat ini sepakbola menjadi agama baru yang mampu mempersatukan banyak manusia di muka bumi ini. Padahal, dua abad lalu, misalnya di Inggris, sepakbola menjadi olahraga atau permainan yang sangat dilarang penguasa. Bahkan, ancaman mereka yang bermain sepakbola cukup berat, yakni dihukum mati. Ada beberapa hal yang juga harus diungkapkan dari keberhasilan Sriwijaya FC sejauh ini. Pertama, penilaian bahwa masyarakat Sumsel berwatak keras, suka dengan kekerasan, dan cenderung tidak fair, ternyata tidak terbukti. Sampai saat ini, sporter atau pendukung Sriwijaya FC, dikenal sopan dan tertib. Menang atau kalah, mereka tetap menjaga ketertiban di dalam maupun di luar stadion. Bahkan, mereka pun dengan senang hati membeli tiket, bukan berebut atau mendorong pintu stadion agar dapat menonton secara gratis. Kedua, meskipun menghadapi sedikit kendala keuangan, ternyata dukungan pemerintah maupun masyarakat Sumatra Selatan terhadap Sriwijaya FC, jauh lebih baik dibandingkan nasibnya dengan klub-klub lain di Indonesia. Bahkan, kebetulan atau tidak, empat klub yang masuk ke semi final Copa, merupakan klub yang kondisi keuangannya cukup baik, seperti Persija Jakarta, Persipura, Pelita Jaya, dan Sriwijaya FC. Ketiga, Sriwijaya FC mampu menjadi media komunikasi yang efektif antara penyelenggara negara dengan masyarakat. Mungkin, kita akan sulit menemukan adegan Syahrial Oesman berlari bersama seorang penarik becak yang menjadi sporter sepakbola, sambil memegang sebuah bendera, bila tidak ada Sriwijaya FC. Atau, tampak segan-segan para pejabat negara dengan rakyat berpelukan dan bersalaman seusai Sriwijaya FC meraih kemenangan. Keempat, meskipun belum ada pembuktian dalam sebuah penelitian, keberadaan Sriwijaya FC juga mendorong masyarakat Sumatra Selatan untuk senang berolahraga. Buktinya, sejak Sriwijaya FC memberikan kebanggaan, lapangan futsal tumbuh bak jamur di Sumatra Selatan, sehingga setiap malam ratusan warga Sumatra Selatan bermain sepakbola. Menjadi sehat. Di sisi lain, keinginan orang untuk masuk ke ruang-ruang negatif, yang dapat mendorong bertindak salah, seperti narkoba, menjadi berkurang. Mereka yang keletihan sehabis bermain atau menonton sepakbola tentulah tidak tertarik untuk berpesta narkoba. Dengan fakta ini juga, sangatlah wajar, sepakbola di Sumatra Selatan adalah Sriwijaya FC dan Syahrial Oesman. Dua identitas ini, mampu menempatkan sepakbola menjadi simbol kebersamaan dan pembentuk masyarakat Sumatra Selatan yang lebih baik, yakni sehat dan berbudaya. [*] ==
Keterangan:
Penulis adalah wartawan detikcom, tinggal di Palembang. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak mencerminkan sikap/opini tempat institusi penulis bekerja. (tw/a2s)