Thursday, August 23, 2007

Rush Hour 3

Aksi Ditektif Carter (Chris Tucker) dan Inspektur Lee (Jackie Chan) berlanjut. Kali ini petualangan mereka di negeri Eropa, Perancis (setelah Rush Hour 1 di Amerika, Rush Hour 2 di Hongkong/China). Film di mulai dengan adegan Ditektif Carter yang menjadi Polantas dengan gaya "slenge" an nya mengatur lalu lintas. Sudah bisa ditebak lalu lintas kacau balau. Sambil beralih ke scene lain dimana Inspektur Lee, yang memang bergaya serius, mengawal Duta Besar China yang digambarkan orang nya vokal dan akan membongkar sindikat Triad di suatu konferensi. Dalam kesempatan pidatonya, sebuah peluru menembus kaca ruang konferensi dan menghantam sang Ambasador. Lalu inspektur Lee mengejar sang penembak, dan Ditektif Carter ikut membantu pengejaran. Pengejaran berlanjut ke Paris dimana didapati bahwa sindikat Triad ini bermarkas di negeri parfum ini.
Seperti sequel sebelumnya, aksi konyol dan bikin terpingkal-pingkal lewat kolaborasi dua karakter ini. Bagaimana mereka saat menginterograsi Bandit China yang hanya bisa berbahasa Perancis dengan menggunakan penerjemah seorang Suster biarawati, bisa dibayangkan bagaimana saat mereka akan melakukan adegan kekerasan jadi takut-takut soalnya ada agamawan, atau mencoba untuk mengumpat, karena merasa nggak enak di depan biarawati dan terpaksa dengan singkatan-singkatan yang bikin kita terpingkal2. Atau adegan aksi yang dipadu dengan kelucuan-kelucuan seperti saat bersama sopir taxi perancis mereka di kejar-kejar penjahat bermotor. Juga tentunya jangan beranjak dari kursi bioskop kalau film ini selesai, karena masih ada behind the scene khas Jackie Chan, dimana adegan salah nya di putar ulang.

Gaya film dan model cerita nya masih tidak jauh beda dari sequel sebelumnya, cuma untuk yang kali ini saya mendapatkan bedanya kalo yang dulu terasa seperti film Hongkong yang di balut muka Hollywood, tapi kali ini benar-benar terasa full Hollywood. Mungkin karena kita saat ini sudah terbiasa melihat film Hollywood ber "genre" action Hongkong. Film terbaik Oscar tahun ini saja diangkat dari drama kriminal Hongkong.

Dan tentunya saya tidak menyangka sutradara papan atas dan Top di Hollywood, Brett Ratner, masih setia melanjutkan sequel ini. Mungkin karena bayaran atau dampak kemungkinan besar sukses film ini kali. Pastinya yang saya tahu Chris Tucker menuntut tambahan bayaran untuk lanjutan film sukses nya ini. Salut untuk Trio ini yang masih bekerja sama. Betul-betul menghibur Filmnya dan saya juga masih mau kok nonton lanjutannya seandainya dibuat Rush Hour 4.

Wednesday, August 22, 2007

The Bourne Ultimatum : Jason "gak mati-mati" Bourne


Episode terakhir kisah Jason Bourne (Matt Dammon) ini, masih melanjutkan perjalanan Jason Bourne yang mencari jati diri nya. Dan terus diburu dinas intelejen Amerika yang punya proyek ini.

Di akhir kisah akhirnya terungkap siapa sebenarnya Jason Bourne yang ternyata bernama asli David Webb.

Cerdas, karena diangkat dari novel, dan memang mesti cerdas-cerdas membuat film yang diangkat dari Novel. Nggak usah di sebut deh contohnya yang ditonton di bioskop jadi gak enak. Tapi menurut aku sih Harry Potter lumayan OK yang versi Bioskopnya.

Cerdas nya juga sang sutradara (Paul Greengrass) membuat film ini gak jadi 'boring'. Dengan modal cerita si Bourne mencari jati diri nya. Lalu intelejen memburu dan berusaha membunuhnya. Tentu saja dari awal sampe akhir adegan kejar-kejaran dan tipu-tipuan cerdas muncul. Walaupun banyak juga yang sulit diterima akal awam (gak usah di perincikan, tapi salah satunya gak mati-matinya itu lho. Sudah jatuh dari lantai yang tinggi dengan mobil, masih hidup, sanggup lari-lari an lagi hehehe). Tetap saja film ini menghibur dan enak di tonton. Point plus buat skenario nya yang sanggup membawa penonton mengikuti alur ceritanya.

Terus terang, sequel yang pertama (The Bourne Identity) saya nonton sampe abis, tapi gak ada kesan, yang kedua (The Bourne Supremacy) malah gak sampe selesai, mungkin karena nonton nya lewat DVD kali, kayak jenuh dan membosankan. Tapi untuk sequel penutup ini memang seru. Dan itu dia, sama dengan John McClane (Die Hard) si Jason Bourne ini nggak ada mati nye......

Friday, July 27, 2007

War Of The Worlds (2005)


Judulnya agak unik, ada tahun nya. Aku langsung nebak maksudnya, bukan versi yang jadul. Karena memang film ini remake dan diangkat dari novel klasik HG Wells. Film ini aku nggak sempet nonton di bioskop, sempet mau beli VCD/DVD nya juga, cuma gak jadi. Yah akhirnya nongol di HBO kemarin, alhamdulillah sempet juga nonton nya. Sayang lah melewatkan salah satu film kolosal dan bersejarah.
Ceritanya sederhana, seperti biasa ada makhluk asing yang datang ke Bumi dan siap melakukan penjajahan serta serangan. Dibuka tanpa basa-basi pengenalan tokohnya sebentar yang dimainkan Tom Cruise dengan salah satu anaknya Dakota Fanning, berperan sebagai duda cerai yang mendapatkan jatah pengasuhan anak bergilir. Langsung deh adegan kedatangan makhluk asing tersebut dari ruang angkasa, lewat petir yang menyambar berkali-kali. Selanjutnya bagaimana usaha Tom Cruise sebagai ayah untuk menyelamatkan keluarga nya ini. Jadi kurang lebih maunya, bagaimana seorang ayah yang terbuang (baca: pecundang) menjadi pahlawan di mata anaknya, begitulah. Walau filmnya tidak membosankan, soalnya di sutradarai Steven Spielberg, tapi memang di sini kesannya Spielberg terjebak oleh alur cerita yang sudah pakem sesuai dengan novel. Jadi nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ending nya gak enak banget, pokoknya Alien nya mati, (entah karena aku sudah nggak terlalu konsen atau memang begitu adanya) secara narasi saja disampaikan, ada suatu organisme kecil yang membuat tameng dari Alien-Alien itu hilang, jadi bisa diserang rudal dan misil, mampus deh robot-robot Alien nya...hueeek.
Tidak sesuai gembar-gembor dan nama besar Tom Cruise, Steven Spielberg dan Dakota Fanning. Jadi wajar kalau film ini tidak terlalu sukses. Sebagai barometernya saja istriku yang nonton, sempat semangat di awal langsung masuk kamar tidur he he he nggak kepingin ngabisin jalan ceritanya. Sayang sudah budget mahal, dan maunya memanfaatkan nama besar dari remake film dan novelnya hasilnya begini, yah menang special affect nya doang, maklum Steven Spielberg.