Thursday, August 23, 2007

Rush Hour 3

Aksi Ditektif Carter (Chris Tucker) dan Inspektur Lee (Jackie Chan) berlanjut. Kali ini petualangan mereka di negeri Eropa, Perancis (setelah Rush Hour 1 di Amerika, Rush Hour 2 di Hongkong/China). Film di mulai dengan adegan Ditektif Carter yang menjadi Polantas dengan gaya "slenge" an nya mengatur lalu lintas. Sudah bisa ditebak lalu lintas kacau balau. Sambil beralih ke scene lain dimana Inspektur Lee, yang memang bergaya serius, mengawal Duta Besar China yang digambarkan orang nya vokal dan akan membongkar sindikat Triad di suatu konferensi. Dalam kesempatan pidatonya, sebuah peluru menembus kaca ruang konferensi dan menghantam sang Ambasador. Lalu inspektur Lee mengejar sang penembak, dan Ditektif Carter ikut membantu pengejaran. Pengejaran berlanjut ke Paris dimana didapati bahwa sindikat Triad ini bermarkas di negeri parfum ini.
Seperti sequel sebelumnya, aksi konyol dan bikin terpingkal-pingkal lewat kolaborasi dua karakter ini. Bagaimana mereka saat menginterograsi Bandit China yang hanya bisa berbahasa Perancis dengan menggunakan penerjemah seorang Suster biarawati, bisa dibayangkan bagaimana saat mereka akan melakukan adegan kekerasan jadi takut-takut soalnya ada agamawan, atau mencoba untuk mengumpat, karena merasa nggak enak di depan biarawati dan terpaksa dengan singkatan-singkatan yang bikin kita terpingkal2. Atau adegan aksi yang dipadu dengan kelucuan-kelucuan seperti saat bersama sopir taxi perancis mereka di kejar-kejar penjahat bermotor. Juga tentunya jangan beranjak dari kursi bioskop kalau film ini selesai, karena masih ada behind the scene khas Jackie Chan, dimana adegan salah nya di putar ulang.

Gaya film dan model cerita nya masih tidak jauh beda dari sequel sebelumnya, cuma untuk yang kali ini saya mendapatkan bedanya kalo yang dulu terasa seperti film Hongkong yang di balut muka Hollywood, tapi kali ini benar-benar terasa full Hollywood. Mungkin karena kita saat ini sudah terbiasa melihat film Hollywood ber "genre" action Hongkong. Film terbaik Oscar tahun ini saja diangkat dari drama kriminal Hongkong.

Dan tentunya saya tidak menyangka sutradara papan atas dan Top di Hollywood, Brett Ratner, masih setia melanjutkan sequel ini. Mungkin karena bayaran atau dampak kemungkinan besar sukses film ini kali. Pastinya yang saya tahu Chris Tucker menuntut tambahan bayaran untuk lanjutan film sukses nya ini. Salut untuk Trio ini yang masih bekerja sama. Betul-betul menghibur Filmnya dan saya juga masih mau kok nonton lanjutannya seandainya dibuat Rush Hour 4.

Wednesday, August 22, 2007

The Bourne Ultimatum : Jason "gak mati-mati" Bourne


Episode terakhir kisah Jason Bourne (Matt Dammon) ini, masih melanjutkan perjalanan Jason Bourne yang mencari jati diri nya. Dan terus diburu dinas intelejen Amerika yang punya proyek ini.

Di akhir kisah akhirnya terungkap siapa sebenarnya Jason Bourne yang ternyata bernama asli David Webb.

Cerdas, karena diangkat dari novel, dan memang mesti cerdas-cerdas membuat film yang diangkat dari Novel. Nggak usah di sebut deh contohnya yang ditonton di bioskop jadi gak enak. Tapi menurut aku sih Harry Potter lumayan OK yang versi Bioskopnya.

Cerdas nya juga sang sutradara (Paul Greengrass) membuat film ini gak jadi 'boring'. Dengan modal cerita si Bourne mencari jati diri nya. Lalu intelejen memburu dan berusaha membunuhnya. Tentu saja dari awal sampe akhir adegan kejar-kejaran dan tipu-tipuan cerdas muncul. Walaupun banyak juga yang sulit diterima akal awam (gak usah di perincikan, tapi salah satunya gak mati-matinya itu lho. Sudah jatuh dari lantai yang tinggi dengan mobil, masih hidup, sanggup lari-lari an lagi hehehe). Tetap saja film ini menghibur dan enak di tonton. Point plus buat skenario nya yang sanggup membawa penonton mengikuti alur ceritanya.

Terus terang, sequel yang pertama (The Bourne Identity) saya nonton sampe abis, tapi gak ada kesan, yang kedua (The Bourne Supremacy) malah gak sampe selesai, mungkin karena nonton nya lewat DVD kali, kayak jenuh dan membosankan. Tapi untuk sequel penutup ini memang seru. Dan itu dia, sama dengan John McClane (Die Hard) si Jason Bourne ini nggak ada mati nye......

Friday, July 27, 2007

War Of The Worlds (2005)


Judulnya agak unik, ada tahun nya. Aku langsung nebak maksudnya, bukan versi yang jadul. Karena memang film ini remake dan diangkat dari novel klasik HG Wells. Film ini aku nggak sempet nonton di bioskop, sempet mau beli VCD/DVD nya juga, cuma gak jadi. Yah akhirnya nongol di HBO kemarin, alhamdulillah sempet juga nonton nya. Sayang lah melewatkan salah satu film kolosal dan bersejarah.
Ceritanya sederhana, seperti biasa ada makhluk asing yang datang ke Bumi dan siap melakukan penjajahan serta serangan. Dibuka tanpa basa-basi pengenalan tokohnya sebentar yang dimainkan Tom Cruise dengan salah satu anaknya Dakota Fanning, berperan sebagai duda cerai yang mendapatkan jatah pengasuhan anak bergilir. Langsung deh adegan kedatangan makhluk asing tersebut dari ruang angkasa, lewat petir yang menyambar berkali-kali. Selanjutnya bagaimana usaha Tom Cruise sebagai ayah untuk menyelamatkan keluarga nya ini. Jadi kurang lebih maunya, bagaimana seorang ayah yang terbuang (baca: pecundang) menjadi pahlawan di mata anaknya, begitulah. Walau filmnya tidak membosankan, soalnya di sutradarai Steven Spielberg, tapi memang di sini kesannya Spielberg terjebak oleh alur cerita yang sudah pakem sesuai dengan novel. Jadi nggak bisa ngapa-ngapain lagi. Ending nya gak enak banget, pokoknya Alien nya mati, (entah karena aku sudah nggak terlalu konsen atau memang begitu adanya) secara narasi saja disampaikan, ada suatu organisme kecil yang membuat tameng dari Alien-Alien itu hilang, jadi bisa diserang rudal dan misil, mampus deh robot-robot Alien nya...hueeek.
Tidak sesuai gembar-gembor dan nama besar Tom Cruise, Steven Spielberg dan Dakota Fanning. Jadi wajar kalau film ini tidak terlalu sukses. Sebagai barometernya saja istriku yang nonton, sempat semangat di awal langsung masuk kamar tidur he he he nggak kepingin ngabisin jalan ceritanya. Sayang sudah budget mahal, dan maunya memanfaatkan nama besar dari remake film dan novelnya hasilnya begini, yah menang special affect nya doang, maklum Steven Spielberg.

Thursday, July 26, 2007

Final Juga Akhirnya


Akhirnya dua team dari negeri Jazirah, bertemu di final. Arab dan Iraq. Dengan jumpalitan kiper Iraq menghadang bola saat beradu penalty. Setelah 2x90 menit plus perpanjangan waktu 2x15 menit kedudukan awal tetap 0-0, dalam partai yang lumayan asyik. Yah itung2 juga kasian lah negeri teraniaya ini, dapat hadiah yang cukup menghibur final Piala Asia.
Di laga semifinal kedua pertarungan lebih seru lagi. Setelah saling susul menyusul dalam membobol gawang. Akhirnya di kedudukan 3-2 untuk Arab Saudi, Jepang tidak sanggup lagi menambah golnya. Walaup menjelang menit akhir tendangan jarak jauh pemain Jepang, sempat membentur tiang gawang. Tapi pertandingan tetap di menangkan Arab Saudi dengan skor 3-2. Dan tentunya ini cukup menghibur orang Palembang, khususnya keluarga ku, bisa dapat tontonan laga Final perebutan juara 3 dengan partai yang lumayan seru Korsel-Jepang. Sesuai harapan abangku tentunya.....

Wednesday, July 25, 2007

Harry Potter and the Deathly Hallows

Dikutip dari Wikipedia





Pengarang J. K. Rowling
Judul asli Harry Potter and the Deathly Hallows
(Belum ada versi bahasa Indonesia)
Ilustrasi Mary GrandPré (AS)
• Jason Cockcroft (UK)
William Webb dan Michael Wildsmith (UK adult)
Versi Indonesia biasanya mengikuti versi AS
Negara Inggris Raya
Bahasa Inggris
Seri Harry Potter
Tipe Fiksi, Fantasi
Penerbit Bloomsbury Publishing PLC (Inggris),
Scholastic Press (AS)
Tanggal terbit Tanggal untuk versi Indonesia belum diketahui
Terbitan bahasa Inggris 21 Juli 2007
Alur waktu 19971998 dan
2017 pada epilog
Jumlah halaman 608 (UK), 759 (US)
Didahului oleh Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran
Dilanjutkan oleh tidak ada

Harry Potter and the Deathly Hallows adalah buku ketujuh dan terakhir dari seri novel Harry Potter oleh J. K. Rowling.

Deathly Hallows diluncurkan secara serentak di seluruh dunia di 93 negara, pada tanggal 21 Juli 2007, satu menit setelah tengah malam (00:01), British Summer Time.

Judul buku ini diumumkan pada 21 Desember 2006 melalui situs web Rowling, dan dikonfirmasikan tak lama kemudian oleh penerbitnya. Rowling menyatakan bahwa seri terakhir ini berkaitan erat dengan buku sebelumnya, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, yang menurutnya "hampir seperti dua bagian dari satu novel". Rowling meninggalkan sebuah pernyataan yang ditandatangani, tertulis di sebuah patung dada pualam di Hotel Balmoral, Edinburgh, yang menyatakan;

"JK Rowling telah selesai menulis Harry Potter and the Deathly Hallows di ruangan ini (652) pada 11 Januari 2007."

Dalam situsnya pada 6 Februari 2007, Rowling menyatakan

"Walaupun saya menyukai setiap buku Potter sebelumnya, 'Deathly Hallows' adalah favorit saya, dan ini adalah sebuah cara yang sangat menyenangkan untuk menyelesaikan serial ini."

Buku ini mendapat predikat best-seller di Amazon dan Barnes and Noble hanya beberapa jam setelah tanggal peluncurannya diumumkan.

Ringkasan cerita

Buku ketujuh diawali dengan Voldemort dan para Pelahap Mautnya di rumah Lucius Malfoy, yang merencanakan untuk membunuh Harry Potter sebelum ia dapat bersembunyi kembali. Meminjam tongkat sihir Lucius, Voldemort membunuh tawanannya, Profesor Charity Burbage, guru Telaah Muggle di Hogwarts, atas alasan telah mengajarkan subyek tersebut dan telah menganjurkan agar paradigma kemurnian darah penyihir diakhiri.

Harry telah siap untuk melakukan perjalanannya dan membaca obituari Albus Dumbledore; dan terungkaplah bahwa ayah Dumbledore, Percival, adalah seorang pembenci non-penyihir dan telah membunuh banyak Muggle, dan meninggal di Penjara Azkaban atas kejahatannya. Harry kemudian meyakinkan keluarga Dursley bahwa mereka harus segera meninggalkan rumah mereka untuk menghindarkan diri dari para Pelahap Maut. Keluarga Dursley kemudian pergi menyembunyikan diri dengan dikawal sepasang penyihir setelah sebelumnya Dudley melontarkan pengakuan bahwa ia peduli akan Harry.

Bersama-sama dengan anggota Orde Phoenix, Harry kemudian pergi dari rumah Dursley ke The Burrow. Dalam perjalanan itu, Hedwig, burung hantu Harry, terbunuh oleh kutukan pembunuh; George Weasley kehilangan sebelah telinganya; Mad-Eye Moody dibunuh oleh Voldemort sendiri. Belakangan, Harry mendapatkan penglihatan mengenai pelariannya; tongkat sihirnya telah bereaksi dengan tongkat sihir pinjaman Voldemort, menghancurkannya, dan ia juga kemudian mendapatkan penglihatan ketika Voldemort menanyai Ollivander si pembuat tongkat sihir, mengenai mengapa hal itu dapat terjadi.

Beberapa hari kemudian, Menteri Sihir tiba di kediaman Weasley dan memberikan warisan Dumbledore untuk mereka: Delumintaor untuk Ron (alat seperti korek api yang dapat memadamkan cahaya); buku mengenai kisah anak-anak untuk Hermione; dan untuk Harry, pedang Godric Gryffindor dan snitch pertama yang ditangkap Harry. Namun demikian, pedang tersebut ditahan, karena menurut kementerian pedang tersebut bukanlah milik Dumbledore. Ketiganya berusaha mencari tahu apa dibalik ketiga benda yang diberikan kepada mereka itu. Sehari kemudian adalah hari pernikahan Fleur Delacour dan Bill Weasley.

Setelah diberitakan bahwa Voldemort telah berhasil mengambil alih Kementerian Sihir; Harry, Ron, dan Hermione kemudian bersembunyi di Grimmauld Place nomor 12, rumah yang diwariskan Sirius Black kepada Harry. Ketiganya kemudian menyadari bahwa inisial R.A.B. pada liontin yang didapatkan Dumbledore dan Harry dalam buku keenam adalah Regulus Arcturus Black, adik Sirius. Mereka mulai mencari Horcrux yang dicuri Regulus di rumah keluarga Black itu. Dari Kreacher, mereka mengetahui bahwa ia telah membantu Regulus untuk mendampingi Voldemort menempatkan Horcrux berbentuk liontin itu di gua. Ketika Regulus merasa kecewa dengan Dumbledore, ia memerintahkan Kreacher untuk kembali ke gua dan menukar liontin dengan yang palsu. Regulus terbunuh dalam proses itu. Pada akhirnya, mereka bertiga menyadari bahwa Mundungus Fletcher telah mencuri liontin tersebut dan memberikannya kepada Dolores Umbridge.

Setelah selama satu bulan memata-matai Kementerian Sihir, ketiganya berhasil mengambil Horcrux dari Umbridge. Dalam prosesnya, tempat persembunyian mereka diketahui dan terpaksa melarikan diri ke daerah terpencil, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, dan tidak dapat lama tinggal di suatu tempat.

Dalam waktu beberapa bulan berpindah-pindah, mereka mendengar bahwa pedang Godric Gryffindor sebenarnya adalah palsu, dan ada yang melakukan sesuatu terhadap pedang aslinya. Dari Phineas Black, Harry mendapatkan bahwa pedang itu terakhir kali digunakan Dumbledore untuk menghancurkan salah satu Horcrux, Cincin Gaunt. Ron kemudian berselisih paham dengan Harry, dan pergi meninggalkan Harry dan Hermione. Harry dan Hermione kemudian pergi ke Godric's Hollow untuk mencari tahu apakah Dumbledore telah meninggalkan pedang itu di sana.

Di Godric's Hollow, keduanya mengunjungi tempat pemakaman keluarga di mana keluarga Potter dan Dumbledore dikuburkan. Di Godric's Holow, mereka juga menemui Bathilda Bagshot, seorang kawan lama Dumbledore yang mengarang buku Sejarah Sihir. Di rumah Bagshot mereka menemukan gambar penyihir hitam Grindelwald, sanak Bagshot, yang pada masa lalu adalah kawan masa kecil Albus Dumbledore. Namun demikian, ternyata mereka terperangkap, karena "Bagshot" itu merupakan penjelmaan ular Voldemort, Nagini. Mereka berhasil melarikan diri dari Voldemort, tetapi tongkat sihir Harry hancur dalam kejadian itu.

Dalam pelarian mereka, Harry akhirnya menemukan bahwa pedang Godric Gryffindor tersembunyi di sebuah kolam beku di tengah sebuah hutan. Ia menyelam ke dalamnya dan mendapati pedang dan kalung liontin Horcrux Voldemort. Kalung itu mencoba mencekik Harry dan hampir menenggelamkannya hingga mati kalau tidak ditolong oleh Ron yang kembali. Keduanya menghancurkan Horcrux dengan pedang itu.

Ketiganya kemudian berbicara kepada Xenophilius Lovegood, ayah Luna Lovegood, dan menanyakan kepada mereka mengenai lambang Grindelwald yang telah berkali-kali muncul selama perjalanan mereka. Di rumah Lovegood, Harry, Ron, dan Hermione mendapatkan kisah penyihir kuno mengenai tiga bersaudara yang mengalahkan kematian, dan masing-masing mendapatkan benda sihir sebagai hasilnya - tongkat sihir yang tak terkalahkan (Elder Wand—tongkat sihir tetua), batu sihir yang dapat menghidupkan kembali yang telah mati (Resurrection Stone—batu kebangkitan), dan Jubah Gaib (jubah tembus pandang) yang tidak lekang oleh waktu. Harry menyadari bahwa jubah yang dimilikinya adalah adalah Jubah Gaib, dan segera menemukan bahwa Lovegood telah berkhianat dan menyerahkan mereka ke Kementerian. Luna, putrinya, telah ditawan dan Xenophilius berpikir untuk menyerahkan Harry Potter sebagai ganti tawanan. Ketiganya meloloskan diri dan berpikir untuk mengumpulkan ketiga benda sihir Deathly Hallows, untuk mengalahkan Voldemort.

Harry, Ron, dan Hermione kemudian tertangkap dan dibawa ke rumah Malfoy. Di sana, Hermione disiksa dan diinterogasi oleh Bellatrix Lestrange untuk mengetahui bagaimana mereka memperoleh pedang Godric Gryffindor, karena ia berpikir bahwa mereka telah mencurinya dari lemari besinya di Gringotts. Di bawah tanah, Harry dan Ron dipenjarakan bersama-sama dengan Dean Thomas, goblin Griphook, pembuat tongkat sihir Ollivander, dan Luna Lovegood. Harry berusaha mencari pertolongan dan Dobby muncul untuk menyelamatkannya. Dalam usaha meloloskan diri, mereka dihadang Wormtail yang kemudian terbunuh karena tercekik oleh tangan perak Wormtail yang dibuat Voldemort tanpa berhasil ditolong oleh Ron dan Harry. Mereka berdua kemudian menolong Hermione dengan bantuan Dobby, yang tewas dibunuh oleh Bellatrix.

Harry dan kedua sahabatnya kemudian berusaha mencari rencana baru. Ia menanyai Ollivander mengenai Elder Wand dan mendapati bahwa pemilik terakhirnya adalah Dumbledore. Ia berusaha untuk mencegah Voldemort mengambilnya dari makam Dumbledore. Dibantu Griphook, Hermione menyamar sebagai Bellatrix Lestrange dan bersama-sama Harry dan Ron memasuki lemari besi Bellatrix di Bank Gingrott's. Di sana mereka menemukan satu lagi Horcrux, piala Hufflepuff. Griphook kemudian mengkhianati mereka dan melarikan diri dan mencuri pedang Godric Gryffindor. Harry, Ron, dan Hermione berhasil melarikan diri, tetapi Voldemort menyadari bahwa mereka mencari Horcrux-Horcruxnya.

Harry mendapatkan penglihatan segera setelah pelarian mereka; ia dapat melihat melalui mata Voldemort dan mengetahui pikirannya. Voldemort telah mendatangi tempat-tempat Horcurxnya disembunyikan dan mengetahui bahwa mereka telah lenyap dan hancur. Secara ceroboh, Voldemort mengungkapkan bahwa Horcrux terakhir berada di Hogwarts. Ketiganya segera pergi ke Hogsmeade untuk mencari jalan masuk ke sekolah Hogwarts. Di Hogsmeade, mereka disudutkan oleh para Pelahap Maut dan diselamatkan oleh Aberforth Dumbledore. Aberforth membuka jalan terowongan ke Hogwarts di mana mereka disambut oleh Neville Longbottom. Setelah menyelamatkan jiwa Draco Malfoy, Harry menemukan Mahkota Ravenclaw tersembunyi di Kamar Kebutuhan dan benda itu dihancurkan.

Di Shrieking Shack, mereka mendapati Voldemort membunuh Severus Snape dengan tujuan untuk mentransfer kekuatan Elder Wand kepada dirinya sendiri. Dalam sekaratnya, Snape memberikan memorinya kepada Harry. Dari memori itu terungkap bahwa Snape berada di sisi Dumbledore, didorong dengan cinta seumur hidupnya kepada Lily Potter. Snape telah diminta Dumbledore untuk membunuh dirinya jika situasinya mengharuskan demikian; karena bagaimanapun juga hidupnya tidak akan lama lagi akibat kutukan yang terdapat di Horcrux Cincin Gaunt. Selanjutnya, terungkap pula bahwa Harry adalah Horcrux terakhir Voldemort, dan ia harus mati juga sebelum Voldemort dapat dibunuh. Pasrah akan nasibnya, Harry mengorbankan diri dan Voldemort melancarkan kutukan untuk membunuhnya. Tapi alih-alih membunuh Harry, kutukan itu malah menghancurkan bagian dari jiwa Voldemort yang terdapat di tubuhnya. Pada akhirnya, setelah Nagini dibunuh oleh Neville, Voldemort kemudian terbunuh setelah mencoba menggunakan Kutukan pembunuh Avada Kadavra terhadap Harry. Kutukan itu berbalik menyerang Voldemort sendiri oleh Elder Wand.

Dalam kisah di akhir buku, pada tahun 2017, 19 tahun setelah Pertempuran di Hogwarts, Harry dan Ginny Weasley telah memiliki tiga anak bernama James, Albus Severus, dan Lily. Neville Longbottom telah menjadi guru Herbologi di Hogwarts. Ron dan Hermione telah memiliki dua anak bernama Rose dan Hugo. Draco Malfoy memiliki anak bernama Scorpius. Mereka seluruhnya bertemu di stasius kereta api King's Cross, untuk mengantar anak-anak mereka bersekolah ke Hogwarts. Di sana diungkapkan bahwa bekas luka Harry tidak pernah sakit lagi setelah kekalahan Pangeran Kegelapan.

Ringkasan cerita di sampul buku

Edisi Britania Raya

Di bagian dalam sampul:

Harry Potter and the Deathly Hallows
Harry dibebani dengan tugas yang gelap, berbahaya, dan tampak mustahil: mencari dan menghancurkan Horcrux-Horcrux Voldemort yang tersisa. Tidak pernah Harry merasa sangat kesepian, atau menghadapi masa depan yang sangat suram. Namun Harry harus menemukan kekuatan di dalam dirinya sendiri untuk menyelesaikan tugas yang diberikan kepadanya. Ia harus meninggalkan kehangatan, keamanan, dan persahabatan di The Burrow dan pergi tanpa takut atau keraguan menjalani garis yang tidak ditawar lagi.

Dalam seri ketujuh, terakhir, dari serial Harry Potter, J.K. Rowling dengan cara yang spektakuler membuka selubung atas jawaban dari berbagai pertanyaan yang telah sangat ditunggu-tunggu. Kisah yang memikat, dianyam dengan lompatan, tikungan, dan putaran yang mendebarkan hati, menegaskan bahwa penulis adalah seorang ratu cerita, yang bukunya akan dibaca, dibaca lagi, dan terus-menerus dibaca.

Harry Potter and the Deathly Hallows

Di sampul belakang:

Harry Potter and the Deathly Hallows
Harry menunggu di Privet Drive. Orde Phoenix datang untuk mengawalnya pergi tanpa tercium oleh Voldemort dan para pendukungnya - jika mereka bisa. Tapi apa yang akan dilakukan Harry selanjutnya? Bagaimana ia bisa memenuhi tugas penting dan tampak mustahil yang ditinggalkan Profesor Dumbledore baginya?
Harry Potter and the Deathly Hallows

Edisi Amerika Serikat

David Saylor, direktur seni di Scholastic, menggambarkan sampul edisi Amerika Serikat sebagai:

Gambar ilustrasi
sampul depan dan belakang
Sampul edisi Scholastic
Edisi Amerika Serikat











Harry Potter and the Deathly Hallows
Bangunan di sekeliling Harry menggambarkan dengan jelas kehancuran dan berbayang-bayang di belakangnya, kita dapat melihat ada orang-orang lainnya. Di sampul belakang, tangan seperti jaring laba-laba terulur ke arah Harry. Jika kita membuka buku ini kita akan menemukan sebuah gambar yang mantap dari Dia-Yang-Tak-Boleh-Disebutkan-Namanya, dengan matanya yang merah memancar, memandang dari balik jubahnya.
Harry Potter and the Deathly Hallows

Mary GrandPré, perancang sampul dan ilustrator buku versi AS ini, tidak lagi menggunakan warna monokrom, sebagaimana dalam Orde Phoenix (warna biru) dan Pangeran Berdarah-Campuran (hijau). Ia kembali menggunakan warna-warni seperti pada keempat buku pertama.

Penasaran Harry Potter


Aku bukan penggemar Harry Potter, satu bukunya pun aku gak punya. Tapi semua filmnya aku nonton, yah minimal ngikutin lah. Cuma untuk bukunya, yang ke tujuh ini alias yang terakhir dari seri Harry Potter, katanya bikin semua umat pencinta Harry Potter di seluruh dunia penasaran. Masalahnya banyak yang meng isukan tokoh penyihir berkacamata ini bakal di buat meninggal di akhir ceritanya, dan info terbaru juga salah satu teman Harry Potter ada yang tewas juga. Tentu saja isu ini membuat penasaran, ketakutan dan kecewa semua penggemar nya. Sampai-sampai dibuat website yang mengumpulkan suara penggemar Harry Potter ke JK. Rowling untuk tidak mematikan sang karakter. Sementara semua orang berlomba-lomba untuk membuka tabir rahasia dari seri terakhir ini yang terus di pendam oleh penulis.
Bahkan seorang hacker pun meng claim telah meng hack percetekan buku ini, dan membeberkan rahasia nya. Sampai yang paling terkahir banyak beredar bocoran edisi digital yang mem foto langsung buku tersebut, walaupun tulisan nya tidak begitu jelas.

Tapi lepas dari itu semua buku tsb telah terbit tanggal 21 juli 2007 lalu. Dan bisa terbukalah tabir rahasia nya. Bagaimana jalan ceritanya dan bagaimana pertarungan abadi Harry Potter dengan Lord Voldemort. Silahkan lihat ulasan nya berikut yang salah satunya saya kutip dari wikipedia...

Tuesday, July 24, 2007

Transformer: Alien yang bukan makhluk hidup


Iya judulnya begitu karena memang si Robot-robot Transformer ini adalah Alien. Nonton nya di bioskop Genting Malaysia. Lengkap dengan anak-anak dan istri tercinta. Ngomong-ngomong bioskop Malaysia asyik juga ada 3 jenis kursi yang bisa dipilih nonton salah satunya kursi santai dan sehat OSIM. Dan tentunya subtitle nya yang menggunakan kata-kata jenayah, katil atau gergasih…hehehe melayu habis.

Cerita di mulai dengan kejadian mengerikan di Timur tengah ketika pasukan Amerika di serang sejenis robot yang canggih dan bisa berubah lalu menyerbu serta membunuh semuanya. Kemudian beralih ke seorang pemuda, diperankan Shia LaBeouf yang presentasi di depan kelas tapi ternyata ujung2 nya jualan, yang dijual harta peninggalan kakek buyutnya yang dulunya pelaut. Dia butuh uang untuk nambahin beli mobil. Nah mobilnya ini yang nantinya adalah Bumblebee salah satu robot pihak Autobots dari sisi baik. Ternyata Bumblebee itu datang ke Bumi duluan untuk menghalangi niat buruk dari robot pihak jahat Decepticons, yang lebih dulu datang ke bumi untuk mencari Allspark yang berbentuk kubus (cube). Allspark ini semacam nyawa atau kekuatan dari para robot, karena sempat dicobakan di dekatkan dengan aneka macam mesin maka bisa berubah menjadi robot, didekatkan ke Handphone Nokia bisa berubah jadi robot lengkap dengan senjata pemusnah nya. Dan ternyata lokasi tempat Allspark nya di simpan oleh Megatron si pemimpin Decepticons waktu ke Bumi sebelum dia terjebak menjadi beku, ke dalam kacamata kakek Buyutnya Sam Witwicky (tokoh yang di perankan Shia) yang mau dijual lelang itu lho, malah sudah di tawarkan ke eBay.

WUiiih keren sekaleee nih film apalagi adegan paling di tunggu saat berubahnya mesin-mesin tersebut menjadi Robot, dari mulai Optimus Prime, Bumblebee, Starscream, Jazz dll. Adegan perang antara Autobots dan Decepticons juga kejar-kejaran Sam dengan cewek gebetan nya Mikaela di perankan si sexy Megan Fox (yang jadi ikut terlibat).

Film yang di angkat dari karakter kartun dan komik ini sangat bagus gembar-gembor nya sebelum launching. Dengan sutradara Michael Bay dan Executive producer si rajanya Sci Fi Movie Steven Spielberg, jadi mantap deh nih film.

Walau aku nggak terlalu ngikutin cerita Transformer ini (dulu sempet punya album Panini nya aja, yang di tempelin sticker itu lho) tapi secara keseluruhan memang dari sisi cerita, walalu agak njelimet maklum kalo yang franchise kayak gini biasanya kita dianggap lumayan ngerti latar belakangnya. Tapi gw cukup puas, terutama si Sulung gw betul-betul terobsesi. Belum lagi Special Effect, muannntaapppsss…. Klop deh dengan hasil nya nih film laku dan sukses abis, baru 3 minggu sudah masuk pendapatan $262,978,000. Tapi di luar itu semua pesan moral film ini adalah….awas kulkas atau tv elu bisa jadi robot pembunuh huehehehe….

Keangkuhan Team Negeri Jiran

Dari awal saya sudah melihat kearoganan di tubuh team Malaysia, menjelang laga Piala Asia. Mereka (Negara, Team, serta rakyat) begitu mengecilkan peran dan arti Piala Asia yang akan di gelar di bulan Juli ini. Betapa tidak, Malaysia lebih mengharapkan kedatangan Eksebisi dan Promo Tour Team besar Premiere League Manchester United yang dalam rencana nya akan berkunjung ke negeri Jiran ini, dalam waktu yang bersamaan saat bergulirnya perhelatan akbar sepakbola dari Asia ini. Sampai-sampai pihak AFC pun turun tangan dan meminta untuk menunda rencana Malaysia untuk mendatangkan Manchester United ini. Tapi dengan setengah menghiraukan bahkan di dukung oleh sang perdana menteri untuk tetap mendatang ManU ke negeri tetangga ini. Dengan embel-embel tema tahun pariwisatanya, Visit Malaysia 2007. mereka kukuh untuk tetap menyambut (bahkan lebih daripada AFC Cup) MU.

Lalu berikutnya pandangan datang dari pers setempat yang memandang para pemain kurang nasionalis dan lebih materialistis, entah apa penyebabnya komentar ini keluar, dari yang pernah saya baca di Tabloid Soccer, para pemain juga setengah hati dalam menjalankan tugas Negara dan menyambut Piala Asia ini, karena para pemain lebih di manjakan oleh kemewahan serta besarnya nilai fulus dari team.

Walau akhirnya pernyataan itu di tampik semua team dan pemain serta kedatangan MU di batalkan, dan Piala Asia tetap di gulirkan di Malaysia serta 3 negara lain di Asean yang menjadi tuan rumah bersama, Indonesia, Vietnam Thailand.

Dan akhirnya keangkuhan itu menuai hasil yang setimpal. Dimana ke 3 Team dari tuan rumah lain, mendapatkan hasil yang bagus serta luar biasa, Thailand mampu menahan team kuda hitam Irak 1-1 dan tiba-tiba dengan dahsyat nya Vietnam menghantam juara Piala Teluk dan sekaligus juga salah satu peserta Piala Dunia tahun 90 an Uni Emirate Arab dengan skor lumayan telak 2-0. Dan tentunya satu lagi wakil Asean yang dengan gagah beraninya meluluhlantakan salah satu raksasa kuat dari negeri timur tengah Bahrain 2-1, yang tentunya membuat membahana stadion Gelora Bung Karno. Malaysia sendiri di tumbang secara dahsyat dengan skor menyakitkan 1-5 oleh Team finalis Piala Asia sebelumnya China. Dan ini juga sekaligus gol satu-satu nya Team berseragam kuning ini. Karena pada laga berikutnya mereka diterjang tanpa balas oleh Uzbekistan 0-5 dan agak lumayan di laga terakhir cukup kalah 0-2 oleh team kuat Iran, walaupun tetap kalah namanya (kalah 0-2 kok dibilang lumayan). Dan akhirnya tragedi seperti ini berbuntut pada pemecatan pelatih serta official team yang lainnya. Informasi yang terakhir saya dapatkan, disamping pelatih nya yang harus lengser juga salah seorang pejabat di FAM (PSSI nya Malaysia), yang terakhir ini saya lihat di acara Sports Center nya ESPN.

Di samping Vietnam satu-satunya wakil Asean yang lolos ke babak berikutnya, yang cukup membanggakan juga adalah Team negeri kita tercinta ini Indonesia, walau tidak lolos ke babk berikutnya tapi hasil yang di torehkan cukup luar biasa. Team kuat Arab Saudi, yang sempat di tahan imbang 1-1 hingga menit ke 92, walau akhirnya harus kalah dengan menyesakkan dalam masa injury ini, di menit berikutnya lewat tendangan bebas kita harus menyerah. Tapi kita harus mengakui dan patut di acungi jempol dukungan pemain ke 12 di tubuh team merah putih ini (walaupun kali ini kita identik dengan seragam hijau) yaitu supporter yang begitu lantang dan tanpa henti juga tidak capek nya mendukung team kesayangannya sambil meneriakkan yel-yel serta terus bernyanyi. Walaupun di Arab Saudi ada juga pemain ke 12 yaitu Wasit yang memimpin pertandingan ini dari UEA (satu rumpun) yang sangat-sangat jelas berat sebelah dan terkesan menyesakkan dada serta mengesalkan. Sudahlah kita jangan mencari kambing hitam, kita harus menegakkan kepala serta memberi applause meriah kepada team kesayangan kita ini, karena tampak jelas inilah awal kebangkitan kalo mau dibilang. Soalnya di laga berikutnya pun Semifinalis Piala Dunia 2002 Korea Selatan cukup dibuat kerepotan, walaupun kita butuh hasil seri untuk melaju ke babak berikutnya, tapi kita kalah dengan skor 1-0. Di laga terakhir ini Indonesia mencatat hasil yang bagus di banding team ASEAN lain, Vietnam kalah 1-4, Thailand kalah 0-4 dari Australia dan tentunya Malaysia yang kalah 0-2 dari Iran. Dan buat Malaysia sendiri tidak ada kata lain di samping mengecilkan dan menganggap sebelah mata dan tentunya sebuah kearoganan yang membuat mu tumbang.

Friday, June 08, 2007

Feisty Fawn - Ubuntu 7.04

Sebenernya udah agak basi, aku sudah lama mau buat blog tentang ini. Tapi gak sempet-sempet. Tepi memang harus nih, soalnya ngebahas Linux. The best Linux distro menurut versi kebanyakan orang (walaupun aku masih berat dan susah meninggalkan RedHat) dan nomor satu di distrowatch, yups, Ubuntu. Resmi deh meluncur akhir April lalu dengan codename Feisty Fawn. Bener-bener kacau nih aku sama informasi, soalnya sudah hampir resmi peluncuran nya pun versi 7.04 ini aku nggak dapet desas-desusnya. Malah sebulan sebelum peluncurannya aku sempet pesen shipit.ubuntu.com (dulu berhasil pesen dikirim sampe rumah), lebih tepatnya Kubuntu yang aku pesen, soalnya aku lebih seneng pake KDE dibandingin G. Nggak tau deh kayaknya pesenan ku di reject, soalnya keburu udah nongol nih versi terbaru nya. Dan akhirnya aku beli di website yang jual CD Linux, Feisty Fawn pastinya, tapi pas pesen yang Kubuntu 7.04 belum ada katanya, yah terpaksa pesen yang versi di bawahnya.

Dan terakhir kemarin di InfoLinux terakhir aku dapet hampir semua versi topnya Feisty Fawn mulai dari Ubuntu, Kubuntu dan edubuntu.

Diklaim sebagai Ubuntu tercepat untuk proses instalasi. Dan waktu booting di CD awalnya, kaget juga langsung live cd ternyata, wah berarti nggak repot2 lagi buat 2 versi, karena proses installnya tinggal satu klik di live cd ini. Jadi deh….

Tapi yang bikin sebelnya itu dia, Ubuntu selalu menganggap semua orang bisa akses internet dengan gampang, soalnya instalasi yang disediakan cuma standar. Jadi tambahan software dan aplikasi lainnya mesti ngambil repository nya dari internet. Pantes aja cukup install dari 1 CD, itu makanya aku masih demen sama RH dan turunannya, nginstall dari DVD installer yang di sediakan. Tapi sekarang sudah banyak dijual di internet DVD Repository nya, sampe 4 DVD boo…entar lah beli.

Instalasi standar untuk yang Desktop version, setelah masuk ke Live CD klik tombol install, kemudian masuk ke mode partisi. Hehehe yang versi desktop ini menu partisi nya agak lebih pintar. Sudah menyerupai install ala anaconda base. Seperti biasa yang ku pake manual atau custom partition, soalnya ada OS lain di dalam.

Setelah itu install jalan, gak ada pilihan paket yang boleh di pilih atau diambil, pokoknya install aja yang standar dulu kali maksudnya. Mo nambah aplikasi lain nyusul belakangan lewat internet via repository, apt. Proses instalasi yang lainnya seperti proses install biasa distro lainnya ada timezone, language dan username/password setting.

Dan memang bener kenceng proses instalasinya, walau awalnya sempet keki juga lantaran aku ngerasanya nggak seperti gembar-gembornya. Soalnya loading CD ke mesin nya lamaaaaaa banget. Dan ternyata bener susuai dugaan, ada problem sama optimizing BIOS. Linux nya saat loading kebingungan sama Floppy Disk, PC ku nggak aku install floppy soalnya, jadi mesti dimatiin alias disable dari BIOS, floppy setting nya.


Dan hasilnya standard Ubuntu sudah terpasang di kompie ku. Lumayanlah buat main-main si Giga khususnya di game nya. Soalnya yang di Kubuntu nggak ada game nya, padahal aku pencinta K daripada G.

FYI untuk yang versi Server, instalasi nya nggak jauh beda dengan versi sebelumnya yang gak GUI banget. Dan lagi-lagi Kubuntu nya tetep asyik menurutku dengan KDE 3.5.6 nya. Dan juga‘keren’nya edubuntu yang versi server, sudah including LTSP dan gampang banget setting nya.

Dan secepatnya aku harus nyoba Beryl nya nih…
Jadi gak usah lama2 tancap aja untuk pake Ubuntu ini, dan aku juga mesti siapin hati sepenuhnya untuk pindah hati dari RPM base…